Pagi itu di sebuah gang di kawasan Gang Kelinci, beberapa pria duduk-duduk mengobrol. Ada pula yang membaca koran atau merokok. Tak semuanya menjalankan ibadah puasa di hari kesebelas Ramadan, 11 Agustus 2011.

Beberapa dari pria itu beretnis Cina yang beragama nonmuslim, lainnya berwajah pribumi. Namun, mereka tampak akrab mengobrol dan bersenda-gurau. Keakraban itu seperti menggambarkan keseluruhan kehidupan bermasyarakat di kampung mereka.

Semboyan negara bhineka tunggal ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua, merefleksikan keinginan luhur untuk mempersatukan rakyat di negara yang multietnis, multikultur, multikepercayaan ini. Kehidupan masyarakat di Gang Kelinci menjadi gambaran bahwa cita-cita itu bisa terwujud.

Gang Kelinci termasuk salah satu perkampungan padat penduduk di Jakarta Pusat yang mencapai 193/km persegi, terbagi menjadi empat bagian, yakni Gang Kelinci I, II, III, dan IV. Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta, jumlah populasi Gang Kelinci adalah 120.000 jiwa yang terdiri atas etnis Cina, India, Betawi, Jawa, dan Sunda.

Salah satu warga yang betah tinggal di Gang Kelinci adalah Haji Widodo. ”Kalau saya mah pendatang, asli Sunda,” kata Haji Widodo (65), warga Gang Kelinci III. Haji Widodo tinggal di Gang Kelinci sejak 1951, saat orang tuanya memutuskan untuk mencari nafkah di Jakarta.

Ia pun menetap,mencari nafkah dengan berdagang (seperti kedua orang tuanya),  menikah dengan orang Betawi, dan membesarkan anak-anaknya di Gang Kelinci. Mereka membaur dengan semua etnis yang tinggal di sana.

”Waktu kecil, saya punya sahabat yang orang Cina, kalau kemana-mana pasti sama dia. Sekarang dia sudah meninggal. Dulu kami seperti saudara, tidak ada yg merasa ’Cina’ atau ’pribumi’,” ujar Widodo mengenang masa lalu.

Hal senada diungkapkan Hjh. Nana (70), warga Gang Kelinci II. ”Semuanya ude kayak saudare (sudah seperti saudara). Dari dulu tetanggaan (bertetangga)sama Cina atau Bombay (sebutan untuk etnis India) rukun-rukun aje,” kata Hjh. Nana yang asli Betawi Gang Kelinci.

Kerukunan itu juga tampak ketika Lebaran atau hari raya lainnya, semua warga saling memberi kue. ”Orang Cina suka ngasih kue kering, kalau Bombay biasanya ngasih kue-kue dari susu,” kata Hjh. Nana.

Menurut Hjh. Nana, di zaman penjajahan, Gang Kelinci disebut Gang Horeng. Pasalnya kluster-kluster tempat tinggal berdasarkan etnis masih sangat kuat. ”Gang IV noh dulu semuanya Cina, sekarang ude campur,” ujarnya. ”Dulu tahun 70’an, Lilis Suryani tinggal di sono (gang IV),” tambah nenek yang mengaku dulu berteman dengan pelantun lagu ”Gang Kelinci” itu.

Di antara komentar positif mengenai kerukunan hidup di Gang Kelinci, masih tersimpan praduga dalam diri beberapa orang, terutama etnis Cina. Seperti Lin Lui Na, seorang perempuan paruh baya warga Gang Kelinci II yang menjadi gusar saat ditanyai soal pengalamannya hidup bermasyarakat di Gang Kelinci. Ia hanya sempat menjawab bahwa ia sudah tinggal di Gang Kelinci selama 50 tahun, lalu buru-buru pergi.

Menurut Juliana (35), warga etnis Cina di Gang Kelinci II, peraturan-peraturan khusus yang diterapkan pada warga keturunan Cina oleh pemerintah di masa lalu, membuat mereka kurang terbuka dengan orang asing.

”Kalau sama tetangga atau warga sekitar, kami sudah akrab dan tidak ada lagi curiga,” ujar Juliana. Berdasarkan informasi dari Juliana, Ketua RT Gang Kelinci II adalah warga keturunan Cina. ”Artinya kami sudah tak mempersoalkan lagi masalah etnis, kita semua orang Indonesia,” kata Juliana. (Azi)