Suasana di dalam kedai es krim Ragusa (foto: Azizah Fitriyanti)

Jakarta, (jakartalounge) – Suasana tempo dulu langsung terasa ketika masuk ke Toko Es krim Ragusa di Jalan Veteran I No.10 Jakarta Pusat. Kursi rotan dan meja kayu yang diatur memanjang, foto-foto hitam putih, kipas angin di langit-langit, dan mesih hitung yang sudah digunakan sejak  1947, melengkapi suasana ”jadul” di Ragusa.

Toko es krim Ragusa dibuka pada 1932 oleh dua warga ekspartiat asal Italia, yakni Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa. Dalam menjalankan usahanya, dua bersaudara itu dibantu oleh Jo Giok Saw, warga keturunan Tionghoa. Belakangan, Vincenzo Ragusa menikahi salah satu putri Jo Giok Saw.

Menurut Saidin, pelayan yang sudah bekerja selama lima belas tahun di Toko Es Krim Ragusa, cucu Jo Giok Saw yang bernama Guntoro menikahi Sias Mawarni, orang Indonesia asli. ”Mereka muslim, dan bahkan tahun lalu sudah naik haji,” katanya.

Guntoro dan Sias menjadi generasi ketiga yang meneruskan usaha keluarga. Pada 1980-an, Es Krim Ragusa memiliki 20 cabang di seluruh Jakarta. Kini hanya tinggal empat cabang,”Yang lain habis terbakar waktu terjadi kerusuhan ’98 di Jakarta,” ujar Sias via telepon. Selain di Jalan Veteran, Es Krim Ragusa memiliki cabang di Duta Merlin, arena PRJ Kemayoran (hanya buka saat PRJ berlangsung), dan di Cipanas, Jawa Barat.

Ada banyak pilihan menu di Ragusa. Mulai dari yang dijual per skop hingga menu ”fancy ice cream” aneka pilihan. Harga es krim per skop Rp5.000, sedangkan ”fancy ice cream” antara Rp23.000 hingga Rp27.000.

”Kalau menu yang paling sering dipesan, spagetti ice cream,” ujar Saidin. Sesuai namanya, es krim spagetti berbentuk seperti mie dengan rasa vanila yang ditaburi cokelat leleh, nougat (kacang sangrai) dan sukade (manisan buah kering).

Es Krim Spagetti Ragusa (Foto: Azizah Fitriyanti)

Pilihan lain ada cassata siciliana (es krim rasa strawberi dan coklat yang dicampur bolu), tutti-fruity (es krim 3 rasa dengan taburan sukade), dan coupe de maison (es krim 3 tumpuk, vanila-nougat). ”Kalau yang coupe de maison itu, katanya kesukaan noni-noni Belanda zaman dulu,” kata Saidin. (Azizah Fitriyanti)