Diskusi Foto "The Life & Times of The Visual Alley" di GFJA, Jakarta, Jumat (5/8). (Foto:Imam Santoso)

Jakarta, (jakartalounge) – Blantika politik di Indonesia diangkat oleh fotografer Rahmad Gunawan dan Adhi Wicaksono melalui kehidupan industri percetakan di Kalibaru, Poncol, Jakarta Pusat.

Hal tersebut disampaikan Oscar Motuloh, kurator pameran foto “The Life & Times of The Visual Alley” dalam diskusi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) Jakarta, Jumat (5/8).

“Judul pameran ini merupakan parodi sisi keindonesiaan pascareformasi,” kata Oscar.

Adhi dan Rahmat kebanyakan membidik pamflet, spanduk dan poster sisa-sisa kampenye Juli 2009.

”Kalibaru menjadi muara visual yang salah satunya mungkin menjadi titik awal kampanye perjalanan visual gerombolan politisi karbitan yang kini duduk di parlemen,” tulis Oscar dalam booklet pameran.

Rahmad dan Adhi mengaku, awal mengambil tema ini karena kagum dengan keberanian warga Poncol untuk melanjutkan hidup. ”Banyak dari mereka tidak punya latar belakang desain, segala macem, tidak punya kios, tapi berani membuka usaha percetakan,” ujar Rahmad.

”Inti foto-foto kami adalah menunjukkan keberanian masyarakat kecil yang tanpa bantuan pemerintah tetap berani membuat brand asli Indonesia,” kata Adhi.

Menurutnya, Indonesia saat ini latah dengan merek luar negeri, terutama China. ”Semuanya serba China; tekstil, mainan, percetakan, tapi Orang-orang di Poncol berani mengambil risiko untuk bersaing,” lanjut Adhi.

Untuk mendukung motivasi yang mengangkat keberanian ”wong cilik”, kurator menambahkan kutipan dari Mohammad Hatta, Tan Malaka dan Chairil Anwar pada tiga foto yang dipamerkan.

”Selain memberi motivasi, kutipan tersebut diambil karena keterlibatan ketiga tokoh itu dalam dunia buku, serta keberpihakan mereka pada akar rumput,” kata Oscar.

Melalui pameran ini pula, Rahmad dan Adhi ingin mengajak  masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai produk dalam negeri, baik buatan manusia maupun alam. (Azizah Fitriyanti)